Kesakralan Kata “Sahabat”.

Seiring berjalannya waktu, seiring waktu berjalan. Seiring usia yang semakin menua, semakin dewasa, dan semakin pintar memilah mana yang patut kita prioritaskan dan tidak. Orang-orang yang bersama kita melewati semua momen itu akan selalu ada. Mereka datang dan pergi dalam kehidupan kita. Namun, ada juga beberapa dari mereka yang masih disisi kita ikut mengisi hari-hari itu.

Seperti halnya seorang, beberapa, bahkan semua orang yang awalnya hanyalah seorang yang asing dalam hidup kita mulai menjadi teman, atau bahkan sahabat. Tapi tidak sedikit pula yang malah menjadi musuh. Yah namanya juga hidup. Pasti akan ada saja hal yang mewarnai kehidupan kita.

Ada beberapa tingkatan pertemanan yang aku buat dalam semua lingkaran pertemananku. Karena aku sangat berpegang teguh pada tidak semua orang dapat dengan mudahnya dipanggil “sahabat”.

Bagiku seorang sahabat masuk dalam kriteria tingkatan pertemanan yang paling tinggi tingkatannya.

Saat kita mulai membentuk sebuah gerombolan pertemanan di lingkungan yang baru, ada beberapa dari kita yang menganggap merekalah sahabatnya secara langsung, ada juga yang mulai melabelkan orang-orang dalam pertemanan itu sebagai “sahabat” mereka hanya karena sering keluar bersama, sering curhat mengenai masalah yang di hadapi, kemana-mana bareng, selalu seru menggosipkan satu sama lain saat orangnya sedang tidak hadir. Segampang itukah mereka disebut sahabat?

Dalam kamusku, pelabelan seorang teman tergantung dari bagaimana dia bersikap, dan timbal balik yang dia berikann pada kita. Ada yang hanya sekedar menjadi “teman main”, ada “teman curhat”, dan “teman biasa”. Aku tidak segampang itu menyebut mereka “sahabat” saat yang kami lakukan hanya sering jalan bareng, atau hanya sekedar curhat satu ama lain, dan parahnya lagi kami tidak merasa sebebas dan selepas itu untuk membuka diri dan melepaskan “topeng” yang kita pakai untuk memperlihatkan diri kita secara utuh tanpa ada sebuah kemunafikan.

Lalu, yang seperti itu kah yang kita anggap “sahabat”?

Sejujurnya, sampai sekarang pun aku tidak pernah melabelkan seseorang atau bahkan kelompok lingkaran pertemananku menyebut mereka semualah “sahabatku”. Kata “sahabat” terlalu sakral dan suci untuk hanya di umbar kepada seluruh dunia saat sebenarnya dia bukanlah sahabat yang sesungguhnya.

Terkadang hanya aku saja yang tahu mana teman yang hanya menjadi teman main ataupun teman biasa. Cukup aku saja.

Karena kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk memberi timbal balik serupa yang kita berikan hanya untuk membuat sebuah lingkup pertemanan dengan orang-orang didalamnya itu kita sebut “sahabat”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s