The Untold Story.

“Kita mau kemana malam ini?”

“Entahlah. Aku tak punya ide, yang jelas kita harus keluar. Pikiranku mumet.”

“Iya deh, terserah kamu aja.”

Klik. Telepon terputus mengakhiri percakapan singkat kami.

Jalan, keluar, main, nongkrong, adalah agenda rutin kami tiap malam ke 2 dan ke 5 dalam seminggu. Bosan? Tentu saja tidak. Malah aku menikmatinya, dan tanpa sadar menantikan agenda rutin kami. Kami? Memangnya kita pasangan? Nggak kok hehe. Cuma aku saja yang terlalu bawa perasaan di setiap hal yang ada dianya.

Lelaki itu bernama Iga, lelaki yang aku kenal semasa SMA dulu. Kami hanya saling mengenal satu sama lain, tidak terlalu akrab awalnya. Sampai suatu hari kami sama-sama tergabung dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah dan otomatis masing-masing dari kami pun memiliki kontak satu sama lain.

Berawal dari komentar ledekan yang terlontar saat salah satu dari kami update PM di BBM yang absurd, menurutku haha. Dan itu terus berlanjut. Mengejek satu sama lain dan tanpa sadar ikut membahas pribadi masing-masing. Obrolan yang hidup. Tak ada satupun dari kami yang menanyakan pertanyaan garing sepanjang masa seperti “lagi apa?” atau “sudah makan?”. Perhatian-perhatian kecil tentu mulai muncul tapi tidak sekentara orang yang terang-terangan sedang pdkt. Dia humoris, itu yang aku suka. Tak ada percakapan yang garing, terkadang aku bisa tertawa terbahak-bahak saat membaca BBMnya. Pembicaraan kami seakan tidak pernah terhenti terus berlanjut sampai besoknya, sampai besoknya. Jujur, aku bahagia. Meskipun semua sikap itu hanya saat kami saling bercakap di BBM. Aku sendiri takjub akan sikapku sendiri, karena biasanya aku selalu bersikap cuek-jawab singkat-garing-lama bales kalo lagi didekati yang tidak sreg sama hati. Tapi dengan dia aku selalu cepat balas-jawab panjang-dan ikut mengimbangi pembicaraan kami. Aku menerima keberadaanya, sangat menerima malah.

Saat bertemu muka dengannya pun kami kadang saling curi pandang, menatap satu sama lain, bersikap seolah tak ada yang terjadi diantara kami dihadapan anak-anak lainnya. Tapi aku mengerti tatapan itu. Aku cuma tak cukup berani mengartikannya terlalu jauh. Aku cukup bahagia dengan hari-hari yang aku jalani sampai sekarang. ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s